Penerapan Kokurikuler di Madrasah
Penerapan Kokurikuler di Madrasah
Oleh. Sugito, M.Pd
MIN 2 Gresik
Kegiatan kokurikuler merupakan jembatan antara pembelajaran di dalam kelas (intrakurikuler) dan dunia nyata, yang membantu siswa untuk lebih memahami, menghayati, dan menerapkan materi pelajaran dalam berbagai konteks.
Kokurikuler adalah kegiatan di madrasaah yang dilakukan oleh peserta didik untuk menguatkan, memperdalam, atau sebagai pengayaan mata pelajaran yang sudah dipelajari dalam kegiatan intrakurikuler. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengoptimalkan penguatan pendidikan karakter pada peserta didik. Kegiatan kokurikuler dilaksanakan sendiri ataupun kelompok. Nantinya, pendidik harus menyiapkan beberapa poin penting, seperti memberikan tugas atau materi yang sesuai dengan pembahasan yang sedang diajarkan. Pengajar juga wajib paham tingkat kesulitan materi kokurikuler agar tugas bisa sesuai dengan kemampuan peserta didik.
Kegiatan kokurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di luar jam pelajaran, namun masih terkait dengan mata pelajaran yang diajarkan di kelas (intrakurikuler). Tujuannya adalah untuk memperdalam, memperkuat, atau memperkaya pemahaman siswa terhadap materi yang sudah dipelajari di dalam kelas. Kegiatan ini bisa berupa penugasan, proyek, atau kegiatan lain yang dirancang untuk mendukung pembelajaran intrakurikuler.
Kegiatan kokurikuler diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk utama yang dapat dipilih dan dikembangkan oleh satuan pendidikan sesuai dengan karakteristik murid dan konteks satuan pendidikan. Kokurikuler pada pendidikan kesetaraan dilaksanakan paling sedikit melalui pemberdayaan dan keterampilan. Kokurikuler pada satuan PAUD dapat diintegrasikan dengan kegiatan intrakurikuler atau diberikan tema dan alokasi waktu tersendiri. Integrasi dapat dilakukan selama tujuan dan hasil pembelajaran untuk memperkuat delapan dimensi profil lulusan.
Kegiatan kokurikuler melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu
Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu dapat dilaksanakan baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler. Dalam konteks intrakurikuler, pembelajaran lintas disiplin ilmu bersifat opsional dan berorientasi pada pencapaian CP (Capaian Pembelajaran) sesuai mata pelajaran yang terlibat. Sementara itu, dalam kegiatan kokurikuler, pembelajaran lintas disiplin ilmu difokuskan pada pendalaman, penguatan, dan pengayaan pembelajaran kegiatan intrakurikuler dalam rangka memperkuat delapan dimensi profil lulusan.
Di madrasah mengembangkan tema “Lingkunganku Sehat, Aku Kuat” sebagai upaya pencapaian dimensi kesehatan, penalaran kritis, dan kolaborasi. Tema ini mengajak murid untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar mereka, mengenali masalah kebersihan dan kesehatan, serta merancang kampanye untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Kegiatan ini melibatkan integrasi beberapa mata pelajaran, yakni IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Seni dan Budaya, dengan peran yang saling melengkapi
Dalam mata pelajaran IPAS, murid diajak untuk mengamati kondisi lingkungan kesehatan. di sekitar rumah atau satuan pendidikan, mengidentifikasi jenis-jenis sampah, serta memahami pengaruh lingkungan terhadap kesehatan. Temuan-temuan tersebut kemudian diolah dalam mata pelajaran Matematika, di mana murid belajar mengumpulkan dan menyusun data dalam bentuk tabel, grafik batang, atau diagram lingkaran sederhana. Setelah itu, mereka mengolah hasil pengamatan dan data tersebut menjadi laporan atau narasi dalam pelajaran Bahasa Indonesia, serta menuliskan pesan kampanye kebersihan dan Kesehatan.
Seni dan Budaya sebagai penerapan keterampilan dan mengembangkan kreativitas digunakan untuk mendesain poster, brosur, atau media visual lainnya. Poster tersebut dapat berisi ajakan menjaga kebersihan, slogan singkat, serta ilustrasi yang menarik. Pada akhir kegiatan, murid mempresentasikan hasil proyek mereka di depan kelas.
Alur pengembangan kegiatan lintas disiplin ilmu diawali pemilihan dimensi profil lulusan dilanjutkan penentuan tema dihubungkan dengan beberapa mata Pelajaran terkait. Setelah memilih mata Pelajaran yang dipilih dilanjutkana penyusunan kokurikuler, pelaksanaan kokurikuler dan evaluasi tindak lanjut.
Penerapan Kegiatan kokurikuler melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu di jenjang Paud pada dimensi profil lulusan Keimanan dan Ketak waan Ter hadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan dengan tema Aku Sayang Diriku dan Teman- teman. Bentuk aktivitas Murid mengeksplorasi berbagai aktivitas bermain, bermain peran, berdiskusi dengan orang tua dan guru, mengunjungi tempat umum, serta menyimak video pembelajaran untuk lebih mengenal diri. Murid lalu membuat buku tentang identitasku. Muatan mata pelajaran terkait Menghargai diri sendiri dan sesama manusia, mengenali identitas diri, dan mengenali peran di keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat, menyimak dan berbicara, serta mengeksplorasi seni
Penerapan Kegiatan kokurikuler melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu di jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada dimensi profil lulusan Kesehatan, Kolaborasi, Komunikasi dengan tema Lingkunganku Sehat, Aku Kuat. Bentuk kegiatan Observasi lingkungan satuan pendidikan, diskusi kelompok, dan membuat poster kampanye hidup bersih. Mata Pelajaran pembelajaran terkait IPAS, Bahasa Indonesia, Seni dan Budaya, Pendidikan Pancasila
Penerapan Kegiatan kokurikuler melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu di jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) pada dimensi profil lulusan Kreativitas, Kewargaan, Kemandirian dengan tema peduli lingkungan. Bentuk aktivitas murid Penelusuran isu lingkungan lokal, penulisan naskah, pembuatan vlog, dan presentasi public. Mata Pelajaran pembelajaran terkait Bahasa Indonesia, IPAS, Informatika, Seni dan Budaya.
Penerapan Kegiatan kokurikuler melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu di jenjang Madrasah Aliyah (MA) pada dimensi profil lulusan Penalaran Kritis, Kolaborasi, Kewargaan dengan tema generasi bijak digital. Bentuk aktivitas murid Studi kasus, debat, penyusunan strategi kampanye, dan penyebaran konten melalui media sosial. Mata Pelajaran pembelajaran terkait Sosiologi, Informatika, Bahasa Indonesia.
Kegiatan Kokurikuler melalui Gerakan 7KAIH
Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) berbasis kebiasaan dan pembelajaran mendalam yang mengedepankan pembelajaran penuh kesadaran (meaningful learning), bermakna (mindful learning), dan menyenangkan (joyful learning). Dalam rangka mencapai sebuah kebiasaan diperlukan pembiasaan, dan pembiasaan memerlukan ekosistem pendukung yang dilakukan bersama mitra yang disebut dengan Catur Pusat Pendidikan.
Kegiatan kokurikuler G7KAIH ini fokus pada pembentukan karakter murid melalui pembangunan pembiasaan positif yang dilakukan secara rutin, konsisten, dan terencana. Ketujuh kebiasaan tersebut meliputi: 1) Bangun pagi; 2) Beribadah; 3) Berolahraga; 4) Makan sehat dan bergizi; 5) Gemar belajar; 6) Bermasyarakat, dan 7) Tidur Cepat. Sebagai kegiatan kokurikuler, Gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia Hebat bukan sekedar ajakan moral atau slogan harian, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter yang perlu dirancang melalui identifikasi kebutuhan, tujuan yang jelas, langkah pelaksanaan yang sistematis, pendampingan, dan asesmen untuk merefleksikan perubahan kebiasaan dan sikap murid. Pada satuan PAUD, kegiatan kokurikuler Gerakan 7 kebiasaan anak Indonesia Indonesia dapat diintegrasikan dengan intrakurikuler selama tema dan kegiatan terkait dengan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat.
Implementasi 7KAIH dapat dilakukan dalam berbagai bentuk aktivitas yang menggembirakan, seperti jurnal kebiasaan harian, tantangan kelas mingguan, kampanye kebiasaan baik, turun ke lapangan, wawancara dengan tokoh masyarakat atau tokoh agama, riset, hingga aksi kolaboratif antar kelas atau Tingkat. Berikut gambaran tahapan Pengembangan kegiatan kokurikuler G7KAIH.
Gerakan 7KAIH diyakini sebagai salah satu upaya dalam pencapaian delapan dimensi profil lulusan karena gerakan ini melibatkan catur pusat pendidikan dengan satuan pendidikan sebagai penggerak. Gerakan 7KAIH akan lebih efektif jika dilaksanakan dalam desain kokurikuler, yakni terdapat perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Satuan pendidikan dapat secara fleksibel menentukan tema dan memilih satu atau lebih kebiasaan dalam 7KAIH sesuai kebutuhan.
Implementasi kokurikuler Gerakan 7 kebiasaan anak Indonesia Hebat. Dimensi Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa implementasi Gerakan 7 Kebiasaan anak Indonesia Hebat melaui beribadah, berolahraga. Tema yang terkait peduli dan berbagi, Aku dan sang pencipta. Bentuk kegiatan keagamaan, jurnal ibadah, catatan bersyukur.
Dimensi kewargaan implementasi Gerakan 7 Kebiasaan anak Indonesia Hebat melalui kegiatan bermasyarakat. Kegiatan implementasi Gerakan 7 Kebiasaan anak Indonesia Hebat diantaranya hidup Bersama dalam keberagaman, aku bagian dari Indonesia ini. Bentuk kegiatan yang terkait diskusi toleransi, simulasi pemilu mini, kegiatan gotong royong.
Dimensi penalaran kritis implementasi Gerakan 7 Kebiasaan anak Indonesia Hebat melalui gemar belajar. Tema kegiatan yang terkait menyelesaikan masalah, fakta dan opini. Aku berpikir. Bentuk kegiatan proyek mini riset, analisis berita, eksperimen sederhana.
Dimensi kreativitas implementasi Gerakan 7 Kebiasaan anak Indonesia Hebat melalui gemar belajar. Tema kegiatan yang terkait aku bisa berkarya, inovasi untuk sekitar. Bentuk kegiatan karya seni, pameran ide, karya tulis kreatif dan desain poster.
Dimensi kolaborasi implementasi Gerakan 7 Kebiasaan anak Indonesia Hebat melalui bermasyarakat. Tema kegiatan yang terkait kerja tim itu asyik, bersamaa kita bisa. Bentuk kegiatan Proyek kelompok, game kerja sama, forum diskusi.
Dimensi kemandirian implementasi Gerakan 7 Kebiasaan anak Indonesia Hebat melalui bangun pagi, tidur tepat waktu. Tema kegiatan yang terkait mengatur waktuku, aku bertanggung jawab. Bentuk kegiatan mengisi jurnal manajemen waktu, tantangan pribadi, penjadwalan mingguan.
Dimensi kesehatan implementasi Gerakan 7 Kebiasaan anak Indonesia Hebat melalui berolahraga, makan sehat dan bergizi. Tema kegiatan yang terkait hidup sehat, aku sayang tubuhku. Bentuk kegiatan jadwal olahraga Bersama, pojok sehat, kampanye gizi.
Dimensi komunikasi implementasi Gerakan 7 Kebiasaan anak Indonesia Hebat melalui gemar belajar, bermasyarakat. Tema kegiatan yang terkait bicara yang baik, aku bisa menyampaikan pendapat. Bentuk Kegiatan debat kelompok, kegiatan presentasi, cinta pengalaman.
Penguatan karakter melalui Gerakan 7 kebiasaan anak Indonesia Hebat dilakukan beberapa tahapan, antara lain penentuan dimensi profil lulusan, penentuan tema, penentuan pembiasaan (pelaksanaan G7KAIH), penyusunan perencanaan kokurikuler, pelaksanaan kokurikuler, dan evaluasi dan tindak lanjut.
Kegiatan Kokurikuler melalui cara lainnya
Bentuk kegiatan kokurikuler dalam kategori cara lainnya berupa kegiatan kokurikuler ciri khas satuan pendidikan berbasis konteks lokal dan kegiatan kegiatan berbasis nilai-nilai satuan pendidikan, dan kegiatan satu disiplin ilmu yang dalam aktivitasnya terjadi kolaborasi beragam keilmuan dan keahlian. Dalam hal ini, satuan pendidikan diberi kebebasan untuk mengembangkan bentuk kegiatan kokurikuler lain yang sesuai dengan nilai-nilai satuan pendidikan, potensi satuan pendidikan, kebutuhan murid, dan konteks lokal, sepanjang kegiatan tersebut memenuhi kriteria kokurikuler.
Kegiatan yang dirancang oleh satuan pendidikan berdasarkan keunikan lokal, nilai-nilai khas satuan pendidikan, potensi yang berkembang di masyarakat sekitar, dan kekayaan budaya atau sosial di daerah tersebut. Misalnya, satuan pendidikan dapat menyelenggarakan kelas membatik, belajar permainan tradisional, praktik bertani atau berkebun, sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan lokal sekaligus menanamkan kecintaan terhadap lingkungan dan budaya sendiri. Kegiatan berdasarkan nilai-nilai khas lembaga atau yayasan, seperti nilai keislaman di satuan-satuan Pendidikan dan/atau pondok pesantren yang berafiliasi dengan lembaga keislaman, nilai kristiani di satuan pendidikan Kristen/Katolik, atau terafiliasi dengan Lembaga agama lainnya.
Kegiatan dari monodisiplin seperti pagelaran seni, karena dalam aktivitas pagelaran seni terjadi kolaborasi keilmuan dan keahlian seni serta bidang lainnya yang mendukung. Bentuk kegiatan kokurikuler “cara lainnya” ini mengakui bahwa setiap satuan pendidikan memiliki identitas, konteks, dan kekuatan unik yang patut diangkat dan menjadi sumber belajar. Selama kegiatan tersebut dirancang secara terencana, melibatkan murid secara aktif, terdapat asesmen yang relevan dengan mata pelajaran, serta berorientasi pada delapan dimensi profil lulusan, maka kegiatan tersebut merupakan kokurikuler. Berikut tahapan pengembangan kegiatan kokurikuler cara lainnya.
Setelah menentukan delapan dimensi profil lulusan, memilih tema yang relevan, dan menetapkan bentuk kegiatan kokurikuler, langkah penting berikutnya adalah merancang tujuan pembelajaran kokurikuler. Tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang menggambarkan arah, capaian, dan hasil yang diharapkan dari suatu proses belajar yang dijalani murid. Tujuan pembelajaran dalam konteks kokurikuler merupakan gambaran hasil yang diharapkan setelah melaksanakan kokurikuler. Komponen tujuan pembelajaran adalah gabungan antara kompetensi yang ingin dibangun dan konten atau muatan nilai yang ingin ditanamkan. Kompetensi merujuk pada kemampuan murid delapan dimensi profil lulusan. Sementara itu, konten dapat berupa tema proyek, kebiasaan positif, nilai-nilai khas satuan pendidikan, atau isu kontekstual yang menjadi ruang belajar bagi murid
Penentuan tema dalam kegiatan kokurikuler wajib memperhatikan dimensi profil lulusan yang ingin dicapai, sekaligus menentukan pembiasaan yang akan dilakukan. Pembiasaan ditentukan dengan memperhatikan aktivitas kebiasaan yang akan dilakukan dan dukungan dari Catur Pusat Pendidikan guna membangun ekosistem pendukung. Dalam penyusunan perencanaan memperhatikan praktik pedagogis yang dilakukan, lingkungan dan kemitraan pembelajaran, pemanfaatan teknologi digital, aktivitas kegiatan yang dilakukan, dan evaluasi dan tindak lanjut.
Pelaksanaan terdiri dari 4 (empat) kegiatan utama, yaitu (1) membangun kesepakatan antara guru dan murid sebagai upaya membangun kesadaran sekaligus menjelaskan pelaksanaan kegiatan kokurikuler yang akan dilakukan (catatan harian, aktivitas pendampingan, dan refleksi); (2) melaksanakan kebiasaan dan melakukan monitoring serta melakukan pembahasan secara berkala hasil evaluasi dari kebiasaan yang dilakukan melalui catatan harian atau jurnal (jurnal kebiasaan harian, tantangan kelas mingguan, kampanye kebiasaan baik, turun ke lapangan, wawancara dengan tokoh masyarakat atau tokoh agama, riset, hingga aksi kolaboratif antar kelas atau tingkat); (3) melakukan diseminasi dan advokasi dengan memberikan materi-materi penting dan berinteraksi dengan praktisi maupun narasumber terkait dengan kebiasaan; dan (4) membangun kemitraan.
Pada tahapan evaluasi terdiri asesmen dan evaluasi serta tindak lanjut. Asesmen yang dilakukan untuk melihat dampak yang terjadi setelah dilakukan pembiasaan. Evaluasi yang dilakukan adalah pelaksanaan kegiatan kokurikuler, dengan melihat masukan (input), proses (process), hasil (outcome. Dan tindak lanjut merupakan kebijakan atau program atau aktivitas yang akan dilakukan setelah melihat hasil asesmen dan evaluasi untuk menyempurnakan keluaran maupun hasil yang dicapai yang dihasilkan.
Pelaporan hasil kokurikuler dalam rapor murid dicantumkan pada kolom Kokurikuler. Pelaporan berisi deskripsi tentang kegiatan yang dilakukan murid dalam kokurikuler beserta pencapaian dimensi profil lulusan yang sudah ditentukan. Mengingat pada satuan PAUD kegiatan kokurikuler dapat terintegrasi dengan intrakurikuler, maka pelaporan kokurikuler dapat diintegrasikan dalam deskripsi elemen CP yang paling terkait dengan dimensi profil lulusan yang dipilih. Apabila satuan PAUD membuat kegiatan kokurikuler yang terpisah dengan intrakurikuler, maka dapat dibuat kolom kokurikuler tersendiri di rapor.
Deskripsi dalam rapor mencakup seluruh kegiatan kokurikuler yang dilakukan dalam tiap semester. Artinya, jika satuan pendidikan membuat dua atau lebih kegiatan kokurikuler dalam satu semester maka pelaporannya cukup satu yang mencakup dimensi profil lulusan yang sudah ditentukan. Di semester ganjil menyepakati melaksanakan 2 kegiatan kokurikuler, yaitu pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu yang fokus pada dimensi penalaran kritis dan gerakan 7KAIH yang fokus pada dimensi kolaborasi, maka yang dilaporkan adalah hasil belajar pada dimensi penalaran kritis dan kolaborasi.
Kegiatan kokurikuler memegang peranan penting dalam memperkaya pengalaman belajar, mengasah keterampilan, dan membentuk karakter serta kepribadian. Keberhasilan kegiatan kokurikuler berarti peningkatan kompetensi yang signifikan dalam diri murid, baik secara akademik maupun non-akademik. Karena kegiatan kokurikuler bukan hanya hadir mengisi waktu kosong atau sekedar aktivitas tambahan bagi murid, tetapi kegiatan ini dirancang dan dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengeskalasi dan mengakselerasi kompetensi murid. Oleh karena itu evaluasi terhadap efektivitas dan relevansi kegiatan kokurikuler menjadi sangat penting. Evaluasi terhadap kegiatan dapat memberikan umpan balik, dan melihat efektivitas pelaksanaan, serta d